Disaat tangan Seringan Angin

April 02, 2011

Hidup adalah seni
tentang memberi dan menerima.
Kita bisa HIDUP dengan apa yang kita DAPATKAN,
Tapi bisa MEMBUAT KEHIDUPAN dengan apa yang kita BERIKAN.
_Waldjinah, Maestro Keroncong_



            Pernahkah kita mendengar seorang dermawan jatuh miskin?. Pernahkah kita mendapati ahli sedekah makin melarat hidupnya?. Sayangnya saya belum. Anda sendiri bagaimana?.
Sekarang, kita semua, mau tidak mau, akhirnya terpaku pada uang. Kita sering mendengar bahwa bukan uang yang menjadi akar semua kejahatan, melainkan kecintaan pada uang. Yah, kita semua memang senang pada uang. Dan sebagai akibatnya, kitapun selalu merasa kekurangan uang.
            Sahabat, saya merekomendasikan anda untuk membaca buku Anda Sebenarnya sangat Kaya, karya Steve Henry. Dalam buku tersebut, penulis mencoba mengungkap sistem nilai baru. Sebuah alternatif selain sistem keuangan murni. Analisis harga secara kualitatif terhadap detil-detil pada diri dan kehidupan. Kita akan menemukan bahwa betapa kita terlalu kaya untuk tidak berada pada posisi memberi.
Lalu atas alasan apa kita memberi beban pada tangan-tangan ini untuk sampai pada takdir kebaikannya?. Tidakkah kita bersedia menyiapkan rangkaian kata indah yang akan dilantungkan tangan-tangan ini ketika tiba masa persaksian baginya kelak?.
Dengan penuh kerendahan hati, tolonglah saya, tolong bantu saya membuktikan pada malaikat-malaikat Allah bahwa kita layak sebagai manusia. Bantu saya membuktikan bahwa kita diciptakan tidaklah sia-sia seperti ketika mereka mengatakan, “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?"  Allah hanya berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Tidakkah indah ketika kita mendengar sejarah saat kaum muslimin bahkan tidak tau harus bersedekah kemana lagi karena seluruh rakyat hidup sejahterah. Dan betapa tidak menyakitkan menemui negeri tercinta ini menjadi satu dari pemegang gelar negeri termiskin di dunia.
“Khoirunnaas Anfa’uhum Linnas”, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Memberi tidak harus selalu dalam bentuk harta, terlalu banyak detil dari diri & sekitar untuk disedekahkan. Tabassumuka fii wajhi ahika shadaqah. Senyumpun adalah sedekah. Tutur kata yang baik, menyenangkan orang lain, mendoakan sesama, semua adalah sedekah.
Islam  sangat indah mengajarkan kita tentang mulianya berbagi. Ingat kisah orang-orang Anshar yang oleh Rasulullah dipersaudarakan dengan kaum Muhajirin. Sa’ad ibn Ar Rabi’ tampil dengan tidak tanggung-tanggung membagi 2 seluruh miliknya pada Abdurrahman ibn ‘Auf yang baru saja dipersaudarakan dengannya. Bukankah indah sejarah dihamparkan oleh Allah untuk kita ambil pelajaran?.
Memberi dari kelebihan mungkin hal biasa yang sudah seharusnya dilakukan. Namun, ketika memberi dari kekurangan kita, disinilah pemaknaan hidup yang lebih tinggi lagi.
Jangan terlalu lama merenung. Kini, apa yang kita miliki sudah saatnya kita bagi. Bagaimanapun dari semua milik kita saat ini bertengger sebagian hak orang lain, kan?. Yuk berfastabikul khoirat. Karena sungguh perbedaan antara pengertian hemat dan pelit hanya dibatasi selaput yang sangat tipis.
Hmm... disaat tangan seringan angin, sejahterahnya negeri ini... ^_^
Selamat memberi... :-)

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe