DARI TULANG RUSUKMUKAH JELMAAN INI?

April 19, 2011




Entah dari tulang rusuk siapa gadis belia itu terjelma.
Hmm..
Perjalanan menemu jawab itulah masalahnya.
Disetiap jengkal ada saja yang membuai imannya.
Di tepi jalan sana misalnya,
Berdiri gagah si rupawan melempar senyuman
Ketika membuang wajah,
Waw, seorang berjas lengkap telah siap meniup lembar-lembar rupiah dengan angin terlembut.
Dia menunduk,
Oh, sebuah lubang menganga,
Nyaris dia terjerembab  jika beranjak selangkah saja dari jalur utamanya.
“Hufff!!! Untunglah.”
Ia melompat kecil.
Ah, dia tergelincir di teras rumah seorang asing yang nampak mulia,
ia dibantu berdiri.
Menatapnya sejenak.
Dan “plak!”,  Tangan si asing menampar.
“Argghhhh... Bodohnya mempercayai.”
Ia bergegas pergi,
lari sejauh mungkin dari tempat nestapa itu.
Tidak lagi fokus, tidak lagi mau menengok.
Ah tidak. Kesalahan fatal.
 Tangannya tertangkap si hitam manis berbadan besar dan tegap ditengah jalan.
Terlambat, secangkir racun dipaksa terteguk,
Makin lama jiwanya melemah, tak bisa lepas, nyaris... sekali nafasnya habis.
Tapi dia belum kalah,
Si sutradara mengeliminir salah satu pemainnya.
Hoho,, si gadis selamat.
Sungguh tak terduga. Ia bebas!!
Belum selesai.
Perjalanan dilanjutkan.
Samar-samar, seorang berkacamata dengan rambut cepak menghampirinya ditengah jalan.
Nampak serius, pelan namun pasti memuntahkan ber ton-ton rumus-rumus tak jelas mentah-mentah.
Terkesima, hampir-hampir mabuk.
Dengan lunglai ia menembus tumpukan ke takjuban itu dan coba tegak kembali.
Sejauh ini, sudah sangat melelahkan.
Ia berhenti sejenak, coba mengatur nafas.
khusyu'.
Ia menutup matanya.
Oh, oh, no!
Terdengar sesuatu.
Nada indah darimana lagi itu?
 Oh Tuhan, buaian syair si mulut manis.
“Cukup sudah.”
Ia mulai muak dengan semuanya.
Ia memutuskan untuk sejenak singgah ke mushallah kecil di perempatan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Berharap mendapatkan ketenang.
Ah,ah, tidaaak. Sungguh justru tempat itulah sarang godaan terbesar.
Si gamis hitam yang yang khusyu di sujudnya,
Si gamis putih yang tampak tenang dan menawan,
Si gamis biru yang selalu menunduk.
Si gamis merah merdu melantunkan harmoni kalimatullah.
Oh sungguh justru disinilah masalahnya.
Hatinya kian gerah.
Di dudukannya itu ia menangis,
Mengaduh, kalut.
Tapi sebentar,
Seorang yang samar nampak melambai padanya dari kejauhan.
Seolah bergumam,
“Bersabarlah. Menunggulah sebentar lagi, kan kujemput engkau dengan berkah.”
Senyum si gadis mengembang.
“Aku akan bertahan. Siapapun dirimu, kan ku tunggu..”
Kelegaan kian menyiram semangat.
“Tapi berlarilah cepat. Jangan terlalu lama.”
Ia menunduk dalam.
Haru.
Ooops tunggu dulu, apa aku sedang membicarakan diriku..?? ^_^

Rafiqah Ulfah Masbah

You Might Also Like

1 komentar

  1. Jujur. Ini adalah catatan teraneh yang pernah kutuliskan. Entahlah. Saya sendiri harus membacanya dengan serius, tertawa, atau apa yah?. Masih tak menyangka bisa menuliskan ini... hmm...
    Untuk kali ini. Siapapun yang ingin menertawaiku, tertawalah. Ku izinkan..

    BalasHapus

Say something!

Subscribe