Teguran kedalam . . .

Maret 09, 2011


-->
Beberapa orang, dan beberapa hal memaksaku menuliskan ini.

Saya hidup untuk mencintai sesuatu
Saya dicintai untuk sesuatu yang hidup
         

Terkadang manusia terlalu menggampangkan mengatakan ‘CINTA’, hingga makin hari, maknanya makin memburam dan menyempit.
Aku hanya tahu satu jenis cinta. MencintaiNya, Mencintai untukNya, Mencintai yang dicintaiNya, dan Mencintai karenaNya. Tidak selainnya.
Jika hatiku tertarik, itu adalah fitrah. Tapi meneruskannya adalah nafsu menyesatkan.
Jika mencintai, ku artikan dalam sebentuk kedekatan tanpa ikatan halal, percayalah!, Aku bukan wanita yang baik!.
Jika jiwaku menuntut diri mencari sekepingnya yang lain, sementara ku pilih jalan untuk membangun interaksi lebih dengan laki-laki yang belum pasti untukku, bukankah aku zalim terhadap ketetapan terbaikNya?.
Ku katakan. Jika sampai aku melakukan itu semua. Percayalah, aku benar-benar bukan wanita yang baik.
Akan selalu ada jalan yang lebih lurus jika seseorang mengharapkan sosok yang baik dalam hidupnya.
Tugas kita cuma satu, bagaimana memantaskan diri untuk yang terbaik tersebut.
Bukankah firman itu sudah menjanjikan, “Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik..”, begitupun sebaliknya.
Jangan sampai kita menyalahkan takdir, sementara mungkin masalahnya ada pada diri kita sendiri. Dengan berleha-leha dalam perbaikan diri, waktu kesana pun menjadi makin terulur panjang. Mengapa?. Karena kita tampil sebagai seseorang yang tak pantas atas apa yang kita harapakan.
Tentunya dalam hal ini, sekali lagi, memenuhkan hati dengan hasrat-hasrat menyimpang bukanlah pilihan yang benar.

Ini adalah bentuk teguran pribadi.
Ku bagi...

 _Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe