Seberarti Sengatan Nafas

Maret 27, 2011


         
Yang seringkali tidak disadari adalah
bahwa sikap Anda tidak hanya memberikan pengaruh pada kebahagiaan dan kesuksesan Anda sendiri,
tapi juga bisa mempengaruhi kesuksesan semua orang disekeliling Anda.
Sebenarnya sikap  itu menular, dan dari waktu ke waktu kita perlu bertanya pada diri kita sendiri,
“Apakah sikap ini pantas ditiru?”
_Mac Anderson_
  
        
          
         Salah satu hal yang paling menakjubkan tentang memiliki sebuah sikap positif adalah jumlah orang yang mendapat pengaruhnya. Sikap. Berbicara tentang ini, saya teringat ketika Benyamin Franklin berutara, “Kebahagiaan tidak tergantung pada hal-hal disekitarku, tetapi pada sikapku. Segala sesuatu dalam kehidupanku akan tergantung pada sikapku.”
Dalam salah satu catatan Setia Furqon Kholid, beliau bercerita tentang pengalamannya di sebuah restoran. “Setelah sholat saya berinisatif mengajak ayah, umi, dan adik-adik untuk makan di sebuah rumah makan yang cukup berkelas untuk keluarga kami.” beliau membuka ceritanya.”Ada kejadian menarik saat kami telah memesan beberapa menu makanan. Dari mulai waktu tunggu yang cukup lama, hampir 15 menit. Eh, ditambah lagi pesanan ayah belum masuk order, terpaksa lebih dari 45 menit harus kami ikhlaskan hanya untuk menyantap satu menu makanan. Bagaimana rasa masakannya? Memang enak sih, tapi kok, kenapa ya produk yang enak jadi kurang enak saat pelayanan banyak kesalahan dan mulai tidak ramah.
Setelah makan, saya ingin ke toilet. Namun ada sesuatu yang mengesankan. Saat akan masuk, sudah ada seorang lelaki separuh baya yang dengan ramahnya tersenyum, menyapa dan menunjukkan toilet pria pada saya. Lebih mengesankan dan unik lagi saat masuk toilet yang bersih itu saya mendengar ia sedang memutarkan murottal quran yang dilantunkan Syaikh Al-Mathrud dari speaker Handphonenya. Di dalam toilet, serasa di masjid deh... Ya, gimana nggak, walaupun murottalnya diperdengarkan di luar tapi terdengar nyaman di dalam. Lebih terpana lagi saat saya mendengar, sang penunggu toilet itupun sedikit demi sedikit mengikuti lantunan ayat yang dibawakan dalam murottal yang ia putar itu. Nampak seperti sedang mengulang atau menguatkan hafalannya, jangan bayangkan surat pilihan dalam juz 30 ya, saya yakin itu surat panjang, seperti Al-Baqoroh, Al-Imron atau sebagainya. Subhanallah...
Keajaiban tidak sampai disini Saudara-saudara,”lanjutnya.
“Awalnya saya siapkan dua logam bertuliskan Rp.500, saya berniat untuk menggantinya dengan satu lembar uang Rp. 5000. Saat mau melangkah keluar toilet, terdengar sang penunggu toilet sedang mengejar salah satu pengguna toilet yang memberi uang terlalu banyak, sepertinya sih Rp.50.000. Ia pun berusaha mencari kembalian dan mengejar sang Bapak, namun dari kejauhan sang Bapak berkata, "Udah, sisanya buat kamu saja.. terimakasih ya!". Dengan penuh kebingungan bercampur kebahagiaan ia pun menjawab, "Pak.. ini bagaimana... Terimakasih banyak Pak.. terimakasih".
Lihatlah!, Seberarti sengatan nafas, dengan keputusan yang kita buat, sikap yang kita tunjukkan, dalam cara-cara positif maupun negatif, setiap hari kita mempengaruhi kehidupan keluarga, rekan kerja teman-teman dan bahkan orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya.
Anda mungkin tidak menyadari bagaimana satu senyuman yang anda berikan kepada orang-orang setiap pagi, mengangkat semangat hati-hati yang sedih. Anda mungkin tidak pernah menyangka, bagaimana besarnya pengaruh sebuah selamat tulus yang anda berikan kepada rekan-rekan anda dalam pencapaian-pencapaian kecilnya bisa membangkitkan gairah mereka untuk berbuat lebih besar dan berkarya lebih baik. Anda mungkin tidak mengerti bahkan sebuah jempol di status teman-teman Anda misalnya, memberikan arti tersendiri bagi mereka. Anda mungkin tidak sempat memikirkan, bagaimana sebuah komentar singkat anda dicatatan-catatan saya, bahkan sekedar berkata “nice”. Amat sangat besar pengaruhnya untuk saya lebih bersemangat menggeluti hobi ini. Sebagaimana  William James berkata lebih dari satu abad yang lalu, “Penemuan terbesar dari generasi ini adalah seorang manusia dapat merubah kehidupan dengan merubah sikapnya.”. Ya. Kita sepakat dan saya rasa sudah banyak mendapati pembuktiannya. Dalam redaksi lain, John C. Maxwell juga mengambil sepakat dengan ujarannya “Sikap kita terhadap kehidupan, menentukan sikap kehidupan kepada kita.”

***

Selanjutnya, jika anda bertanya, bagaimanakah menyikapi orang-orang yang tidak kita sukai?. Simaklah perbincangan ini!.
“Bukankah tidak tulus,” tanya seorang mahasiswa, “Jika kita memaksakan diri memuji orang yang kita  benci, atau orang yang kita musuhi ?”
Orang yang ditanya itu tersenyum. Namanya George W. Crane, seorang dokter, konsultan, dan psikolog. Saat mengajar di Northwestern University di Chicago pada tahun 1920-an, dia mendirikan apa yang disebutnya ‘Klub Pujian’.
            “Bukan,” kata Crane masih tetap tersenyum. “Anda bukannya tidak tulus ketika Anda memuji musuh Anda. Karena pujian itu adalah pernyataan yang jujur atas sifat atau keunggulan objektif yang memang pantas dipuji. Anda akan menemukan bahwa setiap orang memiliki sifat baik atau keunggulan,”
            “Mungkin saja,” lanjut Crane dengan serius, “Pujian anda mengangkat semangat dalam jiwa orang-orang kesepian yang hampir putus asa untuk  berbuat baik. Anda tidak pernah tahu bahwa bisa saja pujian Anda yang sambil lalu itu, barangkali mengenai seorang anak laki-laki, anak perempuan, wanita, atau pria, pada titik penting ketika mereka-seandainya tidak mendapat sapaan itu-sudah akan menyerah.”
Ya. Seberarti sengatan nafas, Kemampuan kita untuk mengaca, melihat hal-hal baik dan keunggulan pada siapapun yang ada disekeliling, baik dia adalah sahabat ataupun musuh, akan memberi nilai kabajikan pada tiap hubungan yang kita jalin dengan mereka.

***

Berikutnya, kita juga belajar pada sejarah, bagaimana kehidupan Rasulullah dan manusia-manusia mulia disekitarnya. Belajar dari sikap bunda Khadijah misalnya, ketika Muhammad datang dengan wajah pucat dan gigil disekujur tubuh berkata, “Selimuti Aku...!”, sebagaimana kekhawatiran seorang istri, beliaupun memilikinya, tetapi mengambil sikap sehangat nurani untuk tidak memaksa bertanya, dan memilih membiarkan Rasulullah menenangkan diri. Kecil memang, biasa mungkin. Tetapi jika boleh berandai, Sangat memungkinkan kondisi Rasulullah semakin buruk seandainya dicecar pertanyaan-pertanyaan saat itu. Lalu bagaimanakah kabar wahyu yang baru diturunkan padanya?, ada kemungkinan tak tersampai pada kita.
Seberarti sengatan nafas, kita juga belajar dari keagungan seorang Abu Bakar Ash-Siddiq, dengan empat kata pamungkasnya yang membesarkan jiwa seorang utusan Allah yang didustakan oleh umatnya, “Ya Rasulullah, Saya percaya..!”. Singkat, namun disaat yang tepat, menjelma kekuatan pembesar jiwa, membidik tepat didasar hati Rasulullah yang gelisah.
Demikianlah, Sebagaimana sengatan-sengatan nafas, kita menjadi banyak belajar memenuhi kehidupan dengan arti lebih.
Sahabat, Seandainya anda mengerti, tidak ada waktu lagi dalam detik kehidupan ini untuk tidak tersenyum, untuk tidak bersyukur, untuk tidak berbagi. Karena ribuan terima kasih yang tak bersuara sebenarnya tengah mengiang dihati-hati orang yang anda sentuh tiap harinya. Seandainya anda mengerti, “Bukanlah benda-benda yang anda dapatkan,” kata Mac Anderson dalam bukunya The power of Attitude, “Melainkan hati orang-orang yang anda sentuh, yang akan menentukan kesuksesan anda dalam hidup.”
Jadilah kita seperti yang yang dikatakan William Arthur Ward berikut,
“Dia tahu kelemahan kita, tetapi menunjukkan kekuatan kita;
Dia merasakan ketakutan kita, tetapi membangkitkan keyakinan kita;
Dia melihat kekhawatiran kita, tetapi membebaskan jiwa kita;
Dia mengenal ketidakmampuan kita, tetapi memberi kita kesempatan.”
Begitulah mereka yang memilih sikap selembut Nurani.
Sekali lagi, sikap positif anda pada kehidupan, seberarti sengatan nafas didiri manusia yang tengah sekarat. Sikap adalah hal kecil yang membuat sebuah perubahan besar.
Salam semangatt!!

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe