Ketika Merindu yang Halal itu Semakin pahit

Maret 08, 2011

 
Seseorang membuka suatu perbincangan denganku hari ini. Pembahasan yang saya rasa selalu menjadi problematika bersama. Apalagi kalau bukan masalah, ‘CINTA’. Hhe..
“Dipernikahan kakak saya beberapa hari yang lalu,”ia membuka cerita,” ibu saya sempat menyinggung, supaya saya jangan menikah dulu sebelum lulus kuliah, lalu punya pekerjaan, dan dalam jangka yang waktu cukup lama gajinya bisa dinikmati dulu oleh keluarga,” tuturnya serius. Aku menyeksamainya menghela nafas, dengan maksud yang kurasa berbeda.  Lalu dengan tanpa dosa tertawa, tertunduk, tersenyum, hening.
           
            Anda tau mengapa?, karena mendengar penuturannya itu,spontan  saya langsung teringat sebuah cerita unik. Alkisah (hehe, kayak dongeng),  seorang pemuda dihinggapi gelisah disaat kuliah. Godaan yang mengancam agama dan kehormatannya terasa kian keras mendera. Puasa dan beraktivitas positif telah dilakukannya. Tetapi kadang justru itu! Aktivitas dakwah justru mempertemukannya dengan si jilbab biru yang selalu menunduk malu, si jilbab hitam yang elegan dan anggun, juga si jilbab coklat yang manis, lugu, dan lucu. Hatinya kian gerah. Maka kepada ayahanda dan ibunda dikuatkannya hati untuk berkata, “Pak.. Bu.. Boleh nggak saya nikah sekarang..?”, (bisa ditebak),  empat mata terbelalak di ruang keluarga hari itu. “Heh.. Ngomong apa kamu? Nikah! Nikah! Gundhulmu itu!”.
“Mbok ya sadar, Nak..”suara sang ibu terdengar lembut. “Kamu itu masih semester berapa?! Bapak dan ibu nggak pernah melarang kamu ikut-ikutan aktivitas.. Apa itu namanya.. ee?”
“Da’wah..”
“Iya Da’wah!! Tapi jangan aneh-aneh, belajar saja dulu sana yang bener. Tunggu kamu lulus kuliah dulu baru bicarain ini lagi!”.
“Tapi banyak godaan Bu.. Nggak kuat!”
“Puasa, puasa!! Katanya belajar agama, gitu aja nggak ngerti.”
            Ia ditinggal sendiri. Wajahnya panas. Matanya berkaca-kaca, maka dikibas semua keinginan itu sampai ia benar-benar meraih sarjananya.
Setelah gelar disandang, ia kembali datang menagih ke orang tuanya, “kapan pak, bu, saya dinikahkan?”. “Eh, lulus itu artinya kamu pengangguran baru!, kamu cari pekerjaan dululah Nak, memang anak gadis orang mau kamu kasih makan apa?”. Yah.. dayung tak sambut, maka kecewa kembali menepi. Tapi si pemuda tetap membangun semangat itu dilubuk hatinya.
Beberapa tahun kemudian, si pemuda sudah menghadap ke orang tuanya dengan uang di dompet (eh, itu sih sudah pasti , hhe ). Dengan penghasilan yang bisa dikatakan cukup maksudnya. Nah.. lagi-lagi si pemuda menagih janji, “Kapan nih saya dinikahkan? Kan sudah dapat kerjaan pak, bu?”.  Tapi begitulah fitrah manusia, tak pernah puas. “Aduh nak, kamu itu masih muda, kerjaan kamu aja masih serabetan gitu. bekerjalah lebih giat!”, “Lha, kamu itu berangkat kerja saja masih pakai motor yang Bapak belikan. Nanti ngomongin nikah kalau kamu sudah punya mobil, rumah..”. hmmm.... dan yah.. kekecewaan kembali menyapa (haha.. lebay! ).
Waktu berjalan, selang beberapa tahun setelah itu. Si pemuda tadi datang kembali menemui orang tua, namun kini dengan kunci mobil ditangan, dan kunci rumah yang besar (maksudnya rumahnya yang besar  ^_^). Si pemuda yang sudah gregetan  itu dengan nada memelas, tapi lebih tepat dikatakan memaksa sih, kembali menagih janji. “Bu, pak. Sekarang apa lagi? Kapan saya dinikahkan???!!!!!!”. Bapak dan ibunya menunduk, dengan paras menyesal, mereka berkata, “Aduh nak, sekarang umurmu sudah 50 tahun, siapa yang mau??”.
Astagfirullah.... (haha...) Tolong izinkan saya tertawa sejenak. Maafkan  jika dinilai lancang. Tapi kisah diatas, memang menggelitik. Tolong masukkan kisah ini ke dalam daftar hal-hal yang tak boleh terjadi dalam kehidupan anda.       
Benturan-benturan dalam hal ini memang amat rawan terjadi. Kita selalu dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang sulit. Ini bukan soal patuh atau tak patuh, taat atau membangkang orang tua. Masalahnya ada pada kemandirian kita. Bangunlah ia sejak kini, agar kita memiliki kuasa atas pilihan-pilihan kita sendiri. Mulai dari visi yang jelas, masa depan yang terencana, kedewasaan, dan keberanian bersikap.
Sebelumnya kita kembali ke teman saya tadi. Saya kembali menengok wajahanya sejenak. Saya paham, yang paling dibutuhkannya bukanlah kalimat pembenaran atau sanggahan ataupun tanggapan. Saya merasa dia hanya butuh sesuatu yang menenangkan hatinya. Karena saya tahu betul dia jauh lebih memahami hal ini dari saya sendiri.
“ Lantas menurut kakak bagaimana?” tanyaku singkat. “Saya sih tidak mengambil pusing hal itu. Semua tergantung bagaimana keadaan kedepannya.”. “Jadi dimana letak masalahnya?” selidik saya. “Begini, sebenarnya saya itu sudah punya calon, tapi tidak tau mau atau tidak sekiranya saya minta menunggu saya beberapa tahun lagi.” . Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya,   Saya menyeringah tiba-tiba. “Kak, meminta seseorang menunggu semacam itu, apa bedanya dengan menetapkan sendiri siapa jodoh kita. Sementara semua itu belum pasti sama sekali.” cecarku,(entah mengapa hatiku panas mendengar kata-katanya). “Jangan mendahului takdir Allah kak.”. “Iya, saya mengerti, itulah masalahnya, saya tidak mungkin menikah sekarang, sementara kuliahku belum selesai, pekerjaan juga belum ada.”sanggahnya.
Saya menunduk dan kembali menghela nafas, hanya tidak menyangka dia berkata seperti itu didepan saya, kepada saya. Tapi Saya tidak mau menebak apa-apa. “Kak.. apa kakak yakin orang yang kakak bilang calon itu sudah pasti jodoh yang terbaik nantinya?.” Saya  bertanya tanpa menunggu jawaban apa-apa. Saya mulai mengerti,  dia sedang mengkhawatirkan masa depannya. Karena merasa mulai kurang sehat, saya kembali mengangkat bicara & menutup perbincangan itu. “Tidak perlu risau dengan hal-hal yang akan terjadi kedepannya, masalah jodoh itu adalah sesuatu yang bagi setiap orang sudah tergariskan. Tugas kita adalah berikhtiar, terus memperbaiki diri. Biar Allah yang menggambarkan jalur-jalur indah untuk kita sampai pada saat yang tepat. InsyaAllah sudah ada gadis mulia yang disiapkan disana. Dan sebelum waktunya itu tiba, bersabarlah kak!”. Dia menunduk lebih dalam.
            Kita tinggalkan cerita saya diatas.  Ada sebuah kalimat indah  yang selalu mendamaikan hati saya lalu mengetuk pintu-pintu penginsyafan disana ketika mengingatnya.
Setiap kita berhak mendapatkan pendamping yang sholeh,” tutur seorang wanita bijak suatu ketika, “namun terlebih dahulu, Jadikanlah diri kita pantas untuk untuk dipersandingkan dengannya kelak.
Yah.. yang perlu kita risaukan bukanlah keterhijaban didepan, tapi keadaan sosok yang kita lihat dicermin setiap harinya.Adakah ia pantas bersanding seorang mulia disana?. Silahkan sahabat pilih jawabannya... {-_-}

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

1 komentar

  1. Jika kamu mengetahui bahwa cinta adalah fitrah, maka...

    Seandainya harus berharap, maka berharaplah kepadaNya tentang siapa yang nanti akan dinikahi kelak

    Seandainya harus mengagumi, maka belajarlah untuk mengagumi siapa yang nanti akan engkau nikahi

    Seandainya harus mencintai, maka perkenalkanlah hatimu untuk mencintai siapa yang nanti akan engkau nikahi

    Sehingga usahamu tidak sia-sia, karena cintamu pasti terjadi
    Insya Allah….

    BalasHapus

Say something!

Subscribe