Hanya bagi yang berselera Tinggi

Maret 12, 2011


“Orang-orang yang mendapat
kemampuan mengambil penuh pikirannya sendiri
dapat mengambil apa saja
yang pantas menjadi haknya.”
_Benyamin Franklin_



Salah satu acuan menilai kesuksesan dalam buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin. Ciri orang gagal adalah mereka dengan mindset, buat apa kaya, punya rumah besar sementara anggota keluarga kecil, selain mubazir, juga sulit membersihkannya. Sementara orang sukses akan berkata, “Saya ingin menjadi kaya, dan membeli rumah yang besar, karena jika saya kaya, saya bisa menyewa pembantu untuk membereskan rumah saya. Mindset yang amat berbeda bukan?. Itulah bedanya mereka yang punya selera tinggi, yang mampu berpikir diluar pikiran melaratnya. Tapi seperti apakah patokan selera tinggi itu?.
Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul Turki berdiri sebuah Mesjid dengan nama paling aneh di dunia, yaitu “Shanke Yadem” (Anggap Saja Sudah Makan). Sangat aneh bukan?. Lebih aneh lagi karena Seorang yang tidak kaya, bahkan tergolong miskinlah yang kemudian mendirikannya. Ialah Khairuddin Afandi.
Seperti apakah mula kisahnya?. Begini, Khairuddin Affandi merupakan seorang yang wara’ dan sangat sederhana. Salah satu hal yang gemar ia lakukan ialah saat merasa lapar ia akan pergi ke restoran termahal yang ada, duduk manis sebagaimana biasanya, menengok menu-menu yang ditawarkan pelayan, menetapkan makanan maupun minuman yang sangat ia inginkan saat itu, lantas mengembalikan lagi daftar menu kepada pelayan sembari berkata dalam hati, “Yah..Anggap saja sudah makan.” dan meninggalkan restoran tersebut. Kemudian menyengaja memasukan uang yang ia punya senilai harga makanan yang hendak ia makan tadi kedalam tabungan pribadinya.
Begitupula Ketika ingin membeli baju baru misanya, Khairuddin akan sengaja mendatangi pusat perbelanjaan terbesar yang ada, mengambil beberapa potong pakaian kemudian mencobanya dikamar pas, Ketika dinilai cocok ia akan membelinya (dalam arti lain), dan membayarkannya ke dalam kotak tabungannya. “Anggap saja sudah beli!” batinnya selalu. Sisa uang yang ada akan ia pakai membeli pakaian yang lebih sederhana atau makanan secukupnya.
Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab.
Akhirnya, cita-cita amat mulia itu berwujud menghampirinya. Dalam diri Khairuddin, meski terbatas, dalam artian tergolong miskin itu, masih tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjid kemudian membuktikan bahwa ia bisa berhasil mewujudkannya. Tidak banyak orang yang menyangka bahwa Khairuddin ternyata orang yang sangat luar biasa. Tidak banyak bahkan orang yang kaya skalipun bisa berbuat kebaikan layaknya Khairuddin Afandi.
Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada Khairuddin Afandi. Mereka mencari tahu kisah awalnya. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi nama mesjid yang saat ini berkelimpahan jamaah setiap harinya ini dengan: “Shanke yadem” (Angap Saja Saya Sudah Makan).
Ketika kemudian ia diundang dalam penganugerahan penghargaan oleh Gubernur disana, Khairuddin dilempari pertanyaan tentang upayanya membangun mesjid yang tergolong menakjubkan itu. Ia hanya memberi kalimat singkat dengan seulas senyum penuh kebahagiaan. “Yang pasti, apa yang saya lakukan ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berselera tinggi.”. “Mereka yang berselera tinggi!” ulangnya. Subhanallah...
Maka ambil pelajaranlah wahai orang-orang yang menggunakan akal sehatnya!
(Q.S. Al-A’raf / 7 : 96)

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe