Berhenti Mengekor! Jadilah kepala Bagi keberhasilan!

Maret 11, 2011



“Berikan saya 10 Pemuda yang Revolusioner, maka saya akan mengguncangkan dunia.”
_Ir. Soekarno_

Sering mendengar bahwa kualitas suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas pemudanya ?. Sering mendengar bahwa tonggak-tonggak perubahan selalu berada ditangan-tangan pemuda ?. Sering mendengar bahwa salah satu hal yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhir nanti adalah Untuk apa kita menghabiskan masa muda?. Sudahkah kita benar-benar menginsyafinya?, atau sekedar berlalu lalang di telinga tanpa meninggalkan jejak-jejak perenungan?

“Ada beberapa unsur dalam diri pemuda,” kata Ustadz Setiawan, “sehingga mereka selalu dikaitkan dengan fenomena perubahan sosial.
1. Pemuda dilengkapi dengan ide atau gagasan-gagasan yang segar.
2. Mereka telah mengalami kematangan secara fisik maupun mental.
3. Mereka tidak memiliki beban sejarah.
4. Pemuda memiliki obsesi untuk melakukan perubahan.”
Setiap kita dibekali unsur-unsur tersebut yang meski kadarnya atas satu dan lainnya berbeda-beda, namun pelejitannya akan selalu berpengaruh besar. Melanjutkan kata-katanya, Ustadz Setiawan lebih senang menyebut pemuda dengan istilah Agen of Social Engineering dibanding Agen of change. “Saya lebih senang menyebutnya demikian karena terdapat unsur sistematis pergerakan yang lebih disana.”

Pergerakan. Sebelum jauh berbicara tentang hal ini. Tengok kembali kalimat Soekarno berikut. “Berikan saya 10 Pemuda yang Revolusioner, maka saya akan mengguncangkan dunia.” Garis bawahi kata-kata “revolusiner” dalam kalimat tersebut. Tidak sekedar pemuda, yang benar-benar diperlukan sebagai jawaban dari segala carut-marut bangsa ini adalah Revolusi. Disinilah poinnya. Dan untuk semua itu, Pergerakan menjadi kunci.

Ketika kita mulai memahami hal ini, telusuri lagi dimana posisi pergerakan terbaik untuk mencipta suatu yang Revolusioner. Yup!. Tepat sekali. Di posisi KEPEMIMPINAN.

Alasan saya mengangkat Judul “Berhenti Mengekor, Jadilah kepala bagi Keberhasilan!” ini salah satunya karena saya yakin kita sepakat bahwa sistem kepemimpinan sampai lingkup terbesar di negeri kita jauh dari harapan dan gambaran sebenarnya di benak-benak kita. Untuk itulah kita berusaha agar posisi-posisi kepemimpinan tersebut diduduki oleh orang-orang yang tepat. Tepat memahami tanggung jawabnya, tepat dalam memaknai perubahan baik dalam skala individu maupun skala sosial, tepat mengerti celah-celah potensial bagi perombakan sistem, tepat mampu mengetahui sesuatu yang disebut Ustadz Setiawan tadi sebagai Unit-unit Rekayasa sosial dengan menciptakan momentum-momentum tertentu, juga tepat memaknai perubahan yang dimaksud sebagai perubahan yang bersifat substansif, bukan simbolis.

Namun untuk merebut estafet kepemimpinan ini ditinjau paling tidak dari beberapa hal,
1. Siapa yang paling banyak jaringannya
2. Siapa yang paling populer
3. Dan Siapa yang paling luas pengaruhnya.
Betapa tidak mudahnya menjadi pemimpin dengan persyaratan yang tidak sedikit, dengan tanggung jawab yang tidak kecil, setidaknya ia mesti memiliki daya terima juga ekstabilitas yang tinggi. Tapi kita harus. Karena selama estafet kepemimpinan itu masih berada ditangan yang salah, selamanya perubahan ke arah yang lebih baik akan makin terasa sempit.

Sahabat sekalian, Indonesia bukanlah Negara Islam,‘Tapi ini bukan masalah negara Islam atau bukannya, Ini tentang Pemerintahan.” tukas Ustadz Setiawan berikutnya.

Bacalah bait gelisah yang ditulis Salim A. Fillah dalam bukunya berikut ini..
andai yang memegang kebijakan
adalah ‘Utsman ibn Affan
dan yang mengkritiknya adalah
Abu Dzarr Al-Ghiffari
Kita pun masih berhak untuk khawatir
Maka jika mereka bukanlah keduanya
Perasaan apalagi yang tersisa? . . .

Sahabat, mulailah menyadari kebutuhan ummat ini, mulailah menyadari hakikat diri, mulailah menyadari bahwa jika bukan kita yang bergerak, siapakah lagi yang akan menjadi pioner-pioner perubahan?. Tidakkah iman kita sedikit saja merasa gelisah terhadap realitas yang menumpuk-numpuk kebathilan? Tidakkah ada secuil saja paling tidak hati kita tergerak untuk berubah?.

Dunia membutuhkanmu sahabat. Membutuhkan kita. Mungkin mahfudzat ini sudah sering terdengar, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir.”
Kita tentu tidak berharap kebaikan keluar sebagai pihak yang kalah dalam pertempuaran semangat dan eksistensi. Karena jika demikian, semua hal dalam risalah yang kita emban menjadi terancam.
Sadarilah ini. Lalu Mulailah bertindak. Sekali lagi kukatakan, Berhenti mengekor, Jadilah kepala bagi keberhasilan!.
Salam Semangat....

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe