Hanya butuh satu kata : Selamat!

Februari 02, 2011



          Kita sangkakah bahwa penjajahan telah terganti merdeka, padahal budak-budak kebejatan nafsu masih meraja lela. Mungkin Perang Dunia yang besar itu tlah berakhir. Namun sejatinya ada pertarungan sepanjang masa yang tiada mengenal kata usai, disana sahabat, jauh dalam jiwa, sementara berkecamuk pertempuran rasa.
          Bagaimanakah mampu berkata, “Dunia ada digenggaman”, sedang bendera kemenangan diri belum terkembang. Sungguh tiada pernah yang benar-benar ingin kalah dalam hidupnya. Sungguh normalnya setiap kita memiliki pandangan indah di masa depan. Dan benar-benar hampir mustahil menjangkaunya tanpa kerahan juang yang memeras keringat, hingga mematah-matahkan tulang.
          Yah.. Entah bagaimana dengan kalian sahabat. Aku tidak ingin membahas kebengalan kita sekarang. Hanya ingin sejenak menghampiri bayangan di waktu depan. Taukah kalian sahabat, apapun hasil finish yang ada dibenak-benak kita, aku sungguh hanya tersenyum membayangkan 1 kata. Selamat!. Iya, Selamat!.
          Membayangkan kalian datang menghampiri dengan senyum terkembang, “wah.. selamat kawan. Hebat!”. Berbilang setelahnya, bocah-bocah kecil dirumah berlari-lari menyambut tanganku, “kakak....”katanya, “selamat yh k’, bangga aku jadi adikmu”, kemudian beberapa lagi datang menjitak kepalaku, “hei! Ingat tidak, dulu kamu cuma anak ingusan, kerjaan kita bertengkar sepanjang hari, sekarang kau sudah jadi luar biasa, dik. Hmm selamat sayang..aku dikalahin nih.” ^_^ Aku Cuma cengengesan. Ketika melempar pandangan sekeliling, aku kemudian mendapati 2 orang saling berpeluk, asyik menatapku dengan mata berbinar sambil tersenyum-senyum. Aku lalu berlari riang menghampiri dan mendekap mereka erat. Mereka terisak, seakan tak mampu berucap. Ku seksamai wajah mereka 1 per satu, bulir-bulir bening dimata mulai terjatuh, ya. Itu mereka, sahabat. Yang bertaruh jiwa raga demi kita. Itu mereka sahabat, yang air matanya tiada henti menjejaki pentas pertarungan kita. Dan kini mereka berdiri dihadapanku. Dan ini yang mereka katakan, kekata yang sungguh selalu kuimpikan. Dengarkanlah, sangat sederhana, “Selamat, nak. Selamat!. Terimakasih banyak yah!” Dengarkan sahabat, ‘Terimakasih’ kata  mereka. Siapakah yang sepantasnya berterima kasih disini, siapakah sahabat?. Tapi mereka mengatakannya. Sungguh aku mengerti, semua peluh terbayar dengan melihat keberhasilan kita, semua keringat mereka seolah tersapu, berganti air mata haru. Subhanallah. Luar biasa.
          Tapi ada 1 selamat yang paling kutunggu. Sungguh, dari semua orang, dari semua kata, dari semua hal didunia, aku sangat merindu panggilan 1 ini. Panggilan keselamatan yang teramat sangat indah. Indah...skali sahabat. Coba bayangkan Ia menyeru dengan suara lantang.
        ‘‘Yaaa ayyatuhannafsul mutmainnah,’’, “hai, jiwa-jiwa yang tenang” sapaNya, “Irji’ii ilaa robbiki roodhiyatammardhiyyah”, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”hatiku bergemuruh :-) ,”Fadhuli fii ‘ibaadi”, “Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,” lanjutnya. “Wadhulii  Jannati”, “Dan masuklah kedalam surgaKu”.....
        YaAllah..... air mataku tumpah. Subhanallah.... menghampiri angan tentangnya saja sudah sedemikian indah, membayangkannya saja, jantung sudah berdetak tak karuan, sahabat. Apatah lagi jika kelak benar-benar diserukan kepada kita. Sungguh segala gemerlap dunia tumbang menggantikannya.
          Yah.. Demikianlah finish yang kuimpikan dibenak sahabat. Ku bagi kepada kalian, sekaligus mengharap doa. Sedemikianlah bentuk harap di ujung usia dariku secara pribadi. Lalu, bagaimanakah bentuk angan kalian sendiri ?. :-)
          Moga bisa saling menyampai, hingga kelak berbagi satu kata, Selamat !! ^_^

_Rafiqah Ulfah Masbah_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe