Goresan tangan untuk pelakon-pelakon kehidupan

Januari 26, 2011


Bagaimana pendapatmu ketika kau memiliki suatu keramik mahal dan berharga, yang sempat hancur lalu ada yang berbaik hati menggantikannya untukmu?. Akankah kau sia-siakan, tidak menjaganya dengan baik, kemudian membiarkannya pecah kembali?

Mungkin mayoritas menjawab ‘tidak’.
Dan yah… demikianlah sebuah ‘kesempatan’. Dibeberapa episode kehidupan kita, mungkin seringkali kegagalan, kesalahan, terukir disana. Namun, ketika nafas itu masih betah mondar-mandir dihidung, itu artinya, sebentuk ‘KESEMPATAN’ masih melebar untukmu sahabat. Peluang untuk bangkit masih ada,pintu untuk berhasil masih terbuka, dan jalan menuju pribadi lebih baik masih melontar.

Lantas ketika dirimu termasuk dalam kategori yang beruntung itu, apa yang dirimu akan lakukan setelah ini?. Apakah setia dalam kondisi monoton?, atau menata kembali diri. Apakah akan kembali menjatuhkan diri ke jurang yang sama, membiarkan iblis tertawa riang lagi seperti sebelumnya?, ataukah membentengi jiwa dengan azzam yang kuat dan keimanan yang makin menancap?.

Sahabat…
Tidak akan terlalu berbeda, penghasut sepanjang abad  itu tak jauh-jauh dari titik terlemah dirimu.
Jika ianya harta, takkan jauh-jauh darisana. Jika ianya lawan jenis, itupun tak jauh beda.

Ya. penggoda sepanjang usia itu tak jengah menawarkan dunia berikut keindahannya didepan mata, hidung dan telingamu dengan semanis-manisnya yang mampu dijamah fikiran dan perasaan manusiawi kita sahabat.

Dan jika tidak demikian, taktik lainnya adalah justru menggelapkan pandanganmu, menjatuhkan jiwamu, mematahkan genggamanmu, hingga dirimu hancur, tenggelam dineraka ‘putus asa’.

Sahabat… fikirkan ini. karena aku yakin, tiap kita mengharap akhir mulia, bukan?.
Sudahlah, jika kau pernah menemukan seorang yang miskin lagi pantang mengemis, tak perlu kau cerca, sesungguhnya ia tengah mengangkat harga dirinya.

Jika kau pernah menawari seorang non-mahram boncengan, lalu ditolak dengan jutaan alasan, bahkan secara mentah-mentah, tak usah kau paksa, tak perlu tersinggung, karena mungkin ia sedang memelihara nilai kehormatan dirimu dan dirinya.

Jika kau menyaksikan seorang pendosa besar, kembali menemui takdir ketaatannya. Jangan lagi ungkit masa lalunya, karena Allah malarang, Ia hormat lagi cinta pada pembaharu-pembaharu taubat. Terlebih, dirimu mungkin tak lebih baik darinya.

yah…Sudahlah sahabat…
jika harta dihadapkan padamu dengan barter kesucian diri. Alangkah tak sepadan nilainya. Atau kau gadai dengan martabat agama ini. Benar-benar tiada yang dirimu dapatkan selain kehinaan di mataNya.

Sungguh… bukankah harta yang paling indah dan berkilau itu, letaknya disana. ada di CINTA Ilahi untuk hambanya yang berpeluh ujian hidup, yang tergelincir dosa namun mau memperbaharui taubat, yang terluka namun bangkit dengan kebaikan prasangka, dan yang tak pernah surut mendaki tangga2 kepuncak kemuliaan tertinggi, meski air mata menitik-nitik.

Sahabat…
Diriku, dirimu, dan mereka, kita semua berhak memilih bagaimana memulai, menjalani, bertahan, dan mengakhiri KEHIDUPAN kita. 

Sebagaimana kita berbeda, maka keberadaan kita adalah untuk saling melengkapkan, mengingatkan, menguatkan, serta membagi manfaat. Karena kita ‘Muslim’, Maka kita adalah saudara, saudara dari rahim ‘Iman & ketakwaan’. Dan karena bersaudara, maka ku tulis note ini untuk kalian sahabat. Karena aku peduli, dan karena aku ‘menCintai’ ukhuwah ini. Berikut harap tuk kita senantiasa bergandengan di jalur-jalur kebaikan. Tak tersalah dalam faham, tak tercerai karena mazhab, dan terus saling mengerti dengan kelembutan nurani…

Teriring Robithoh untuk Seluruh saudaraku di seluruh penghujung negeri, bahkan yang belum ku kenali.

Ana Uhibbukum Fillah….. :-)

_F.I.Q.A.H_

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe