Maka Pujilah . . .

Desember 29, 2010



          Bukankah tidak tulus,” tanya seorang mahasiswa, “Jika kita memaksakan diri memuji orang yang kita benci, atau orang yang kita musuhi ?
            Orang yang ditanya itu tersenyum. Namanya George W. Crane, seorang dokter, konsultan, dan psikolog. Saat mengajar di Northwestern University di Chicago pada tahun 1920-an, dia mendirikan apa yang disebutnya ‘Klub Pujian’.
            “Bukan,” kata Crane masih tetap tersenyum. “Anda bukannya tidak tulus ketika Anda memuji musuh Anda. Karena pujian itu adalah pernyataan yang jujur atas sifat atau keunggulan objektif yang memang pantas dipuji. Anda akan menemukan bahwa setiap orang memiliki sifat baik atau keunggulan,
            “Mungkin saja,” lanjut Crane dengan serius, “Pujian anda mengangkat semangat dalam jiwa orang-orang kesepian yang hampir putus asa untuk  berbuat baik. Anda tidak pernah tahu bahwa bisa saja pujian Anda yang sambil lalu itu, barangkali mengenai seorang anak laki-laki, anak perempuan, wanita, atau pria, pada titik penting ketika mereka-seandainya tidak mendapat sapaan itu-sudah akan menyerah.”.
            Segalanya adalah cermin. Kemampuan kita untuk mengaca, melihat hal-hal baik dan keunggulan pada siapapun yang ada disekeliling, baik dia adalah sahabat ataupun musuh, akan memberi nilai kabajikan pada tiap hubungan yang kita jalin dengan mereka. Kita bercermin, melihat bahwa ada selisih nilai antara kita dan sang bayang-bayang. Lalu kita menghargai kelebihannya. Memujinya, sehingga kebaikan itu makin bercahaya . . . :-)

from : buku Dalam Dekapan Ukhuwah

You Might Also Like

0 komentar

Say something!

Subscribe